Seorang preman adalah seorang preman. Dimanapun ia berada. Kapanpun ia Nampak. Dengan siapapun ia berbicara. Berapa tahun ia hidup. Dan berapa tahun sejak kematiannya. Cap, pandangan, bahkan kata-kata untuk mengoloknya tidak dapat berubah menjadi baik. Dimata siapapun seseorang yang telah melakukan kesalahan terlebih jika kesalahan itu sangat menyiksa orang yang disakiti, sulit sekali diri ini untuk melepaskan cap buruknya kepada kita. Manusia selalu terpaku dengan keburukan-keburukan orang lain. Bahkan untuk melirik sedikit kebaikannya yang ada kita malah dibuat iri, kita berburuk sangka dengan kebaikan orang lain, dan kita menolak mentah-mentah kebaikan yang ditawarkan untuk kita. Semoga kita bukan termasuk diantaranya. Manusia penuh dengan kemaksiatan dan dosa. Entah itu dimasa lalu, sekarang, atau bahkan besok kita masih akan melakukan kemaksiatan. Para saksi kemaksiatan seseorang dimasa lalu tidak semua akan mudah untuk memaafkan dan menerimanya kembali menjadi manusia baru. Kebanyakan dari kita justru malah berpamer-pamer tentang masa depan yang semuanya baru angan-angan semata. Mereka saling membicarakan mimpi dimasa depan mereka tak peduli siapa saja yang mendengarnya. Hingga orang yang penuh dengan keburukan di masa lalu pun harus terpaksa untuk mendengarnya. Mereka mendengar orang-orang berbangga hati tentang angan-angannya yang diharapkan cerah di masa depan. Sementara itu, orang-orang yang penuh dengan keburukan di masa lalunya belum mereka sempatkan untuk berubah dari masa lalunya yang kelam. Mereka berangan-angan tinggi kedepan sementara teman-teman mereka yang terbelunggu masa lalu tidak mereka bantu untuk bisa keluar dari masa lalunya dan merubah kedepannya menjadi lebih baik. Mereka justru terpaku pada masa lalu orang-orang yang berbuat kesalahan dan selalu memandangnya BURUK, BURUK, DAN BURUK.
Itulah mengapa “One Day is Life” satu hari adalah kehidupan. Dimanapun itu suatu hari selalu dimulai pukul 00.00 tengah malam dimana semua orang tertidur lelap atau justru menyempatkan diri mereka untuk beribadah kepada Tuhan mereka. Tengah malam yang gelap diibaratkan seseorang yang tak tahu apa-apa dan mereka menjalani kehidupan seperti yang lainnya. Ketika pagi tiba harapan baru pun tiba. Semua orang mengharapkan harapan-harapan itu adalah harapan yang baik. Namun ternyata, ditengah harapan baik pagi itu tertutup dengan awan gelap. Awan gelap yang datang menutup harapan baik dan merubahnya menjadi buruk. Bagi orang yang beriman jika ia mengetahui harapan baik berubah menjadi buruk akan berhenti untuk melangkah dan mencari harapan baik lainnya. Bagaimana jika sebaliknya? Mereka akan terlena dengan harapan buruk itu. Air hujan yang membasahi pagi itu menyirami tanaman dan tumbuh menjadi subur hingga berbuah. Usaha yang ia lakukan dengan keburukan akan tumbuh secara perlahan dan mendapatkan hasilnya, bahkan bisa saja secara instan. Tapi ingat itu adalah keburukan. Tanaman yang tadinya berbuah dan semakin berbuah lama-lama tumbang juga karena air hujan yang turun kapasitasnya sangat banyak, membuat tanaman itu tidak dapat menahannya. Dengan tumbangnya pohon itu, pohon itu akan dibawa arus air kemana-mana. Keburukan orang tersebut terungkap dan tersebar dimana-mana. Hingga saat siang tiba keburukan pun semakin menyurut namun tetap ada ampasnya. Saat siang masih banyak orang yang bekerja. Semakin banyak ocehan dan celaan untuk orang yang melakukan kesalahan tadi. Hingga sang fajar pun terbenam ,semakin tak menampakan sinarnya. Ia menganggap ia harus mengakhiri masa lalunya dan merubahnya menjadi pagi yang cerah. Entah apa yang orang bicarakan dibelakangnya. Dan malam hari lah teman hidup orang-orang yang mau belajar dari masa lalunya. Dan membuktikan bahwa tidak semua orang buruk di masa lalu akan buruk selamanya. Ia pun tenang di malam yang gelap penuh dengan bintang-bintang.
Komentar
Posting Komentar